NalarRakyat.id, Buol – Pemerintah Kabupaten Buol mengambil langkah strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana alam.
Bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dari Stasiun Geofisika Gorontalo dan Stasiun Meteorologi Toli-Toli, Pemda Buol memulai survei lapangan untuk memetakan karakteristik tanah serta tingkat kerentanan wilayah pascagempa yang mengguncang daerah tersebut beberapa waktu lalu.
Kunjungan tim BMKG disambut langsung oleh Wakil Bupati Buol, Moh. Nasir Dj. Daimaroto, S.H., M.H., di halaman Kantor Bupati Buol yang menjadi salah satu lokasi pengambilan sampel survei. Dalam kesempatan itu, Wabup didampingi Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buol, Moh. Kafi Marjuni, S.P.
Menurut Wabup, keberadaan BMKG di Kabupaten Buol memiliki arti penting mengingat kondisi geografis daerah yang memiliki potensi menghadapi berbagai bencana hidrometeorologi maupun kegempaan. Karena itu, hasil survei yang akurat dinilai akan menjadi dasar penyusunan kebijakan mitigasi yang lebih efektif.
“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada jajaran BMKG Gorontalo dan Toli-Toli yang telah hadir melakukan survei di Kabupaten Buol. Langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya melindungi masyarakat dari potensi risiko bencana di masa mendatang,” ujar Moh. Nasir.
Ia menegaskan, data yang diperoleh nantinya akan dimanfaatkan pemerintah daerah untuk memperkuat sistem deteksi dini, menyusun strategi penanganan bencana, hingga menjadi referensi dalam pembangunan yang lebih aman terhadap risiko bencana.
Senada dengan itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Buol, Moh. Kafi Marjuni, memastikan pihaknya siap mendukung seluruh proses survei hingga tindak lanjut hasil kajian yang dilakukan BMKG.
Menurutnya, sinergi antara BPBD dan BMKG akan memperbarui peta kawasan rawan bencana sekaligus memperkuat sistem Early Warning System (EWS) dari tingkat desa hingga kecamatan.
“Data hasil survei ini akan menjadi bekal penting bagi BPBD agar penanganan kebencanaan di Kabupaten Buol semakin cepat, tepat, dan berbasis data ilmiah. Kami siap mendukung seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan BMKG,” tegasnya.
Sementara itu, Staf Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Gorontalo BMKG, Asyer Oktaf, menjelaskan bahwa survei dilakukan menggunakan metode perekaman getaran alami tanah atau microtremor.
Metode tersebut mampu mengidentifikasi karakteristik struktur bawah permukaan tanah hingga kedalaman puluhan meter sehingga memberikan gambaran tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap guncangan gempa.
Fokus survei diarahkan pada kawasan permukiman warga, termasuk sejumlah desa yang sebelumnya dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa bumi yang terjadi pada 12 Juli.
Dari hasil pengolahan data lapangan, BMKG akan menghasilkan sejumlah dokumen penting, mulai dari peta spasial kerentanan tanah, dokumen parameter mikrozonasi sebagai dasar penyusunan tata ruang dan standar bangunan tahan gempa, hingga laporan teknis yang akan diintegrasikan dengan basis data kegempaan nasional di BMKG Pusat.
Selain melakukan survei teknis, tim BMKG juga menggelar koordinasi dan sosialisasi bersama pemerintah daerah serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Kegiatan tersebut bertujuan memberikan informasi terkini mengenai aktivitas gempa susulan, perkembangan kondisi lapangan, serta edukasi kebencanaan kepada para pemangku kepentingan.
BMKG juga mengimbau masyarakat Kabupaten Buol agar tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi.
Warga diminta selalu memperoleh informasi resmi mengenai aktivitas kegempaan melalui kanal BMKG maupun BPBD Kabupaten Buol guna menghindari penyebaran hoaks yang berpotensi menimbulkan kepanikan.
Kolaborasi antara Pemda Buol, BPBD, dan BMKG ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sistem mitigasi bencana yang lebih kuat, sehingga keselamatan masyarakat dapat terlindungi melalui kebijakan yang berbasis data ilmiah dan perencanaan yang berkelanjutan.***














